Generasi Kintir VS Generasi Perenang Handal Peradaban

Penulis: Mr. Yovi Birawanto, S.S. (Guru Seni Budaya & Bahasa Indonesia)

Globalisasi yang kita sudah pelajari sepanjang bersekolah kurleb 16 tahun lamanya—bagi yang mengabdikan dirinya kepada kurikulum buatan negara dan tingginya nilai waras fakultas, adalah proses panjang keterhubungan antarwilayah, budaya, dan ekonomi dunia yang sudah berlangsung sejak zaman kuno hingga era digital saat ini. Dari Era Globalisasi Kuno (sampai abad ke-16); bagaimana jalur perdagangan awal bangsa Tiongkok, India, dan Eropa, penyebaran agama-agama dunia dan tak lupa budayanya, serta migrasi manusia dan tak lupa pula adaptasi kebiasaan budaya secara bertahap. Dilanjut Globalisasi Era Modern sampai Era Kontemporer sekarang ini.

Globalisasi yang awalnya bertujuan untuk proses ‘manusia berbudaya’ sampai ‘budaya bermanusia’. Manusia berbudaya adalah bagaimana berpikir kreatif dan menjunjung nilai keluhuran tentang suatu bangsa yang giat Lestari, bagaimana nilai moral dan adab menjadi suatu kebiasaan alam bawah sadar. Kemudian globalisasi menjadi budaya bermanusia : budaya yang mencari manusianya—budaya tak bertuan (tak bermanusia) yang mudah diperjualbelikan oleh ‘manusia berbudaya’ yang rela menukar identitas kultural demi onani kultural-nyamasing-masing.

Mengapa demikian? Bukan rahasia pawon, kalo saat ini manusia sedang perang intelektual, perang kecanggihan, perang kecerdasan, perang bintang, perang-perang bawa tongkat. Wake up, mad!! Anda sudah berada pada era Society 5.0, budaya luhur sudah hancur dan nilai moral sudah diobral oleh kecerdasan dan kecanggihan robot-robot buatan yang katanya memudahkan nyatanya melucuti kemanusiaan!! Bayangkan saat ini anda telanjang tak beralas empati, dicekoki segudang informasi yang belum tentu dapat dikonsumsi bahkan malah terkontaminasi!! Rasakanlah saat ini anda terjerat propaganda budaya film drakor, dracin, drajep, drathai, drabru (drama Brunei). Hiduplah kembali feminisme, child free, buy 1 get 1 free, pelakor di cari dan dihujat (padahal acting). Kuliner ala Takoyaki, Tteokbokki, Dubai Cuuki, Dujjonku, Donburi, Udon, Sushi similikiti. Pertanyaannya, sekarang Dimana abang rambut nenek? ager gambar? Es serut warna? Kue tete? Gulali bentuk naga yang ditiup abangnya dan di meg-meg tangan wangi abangnya? Lenyap sudah.

Manusia berbudaya : “Apa negatifnya? Dimana jeleknya? Justru itu perkembangan zaman, modernisasi, pembelajaran lintas budaya, pemusatan peradaban manusia, masa iya salah?”

Sedikit mengutip kata Presidenku,

Presiden Jancukers : “oh iya itu bener, tapi kurang pener”

Manusia berbudaya : “opo ne Mbah, seng kurang pener?”

Presiden Jancukers : “yo utekmu seng ora pener!! Budaya kita budaya timur, budaya sopan santun, tata krama, berbudi luhur, susah buat bilang tidak!

Manusia berbudaya : “lho tapi Mbah, masa kita menolak semua perkembangan zaman? Masa kita tidak mengikuti arus global? Masa kita tidak berselancar diatas teknologi buatan? Sayang banget lho Mbah”

Presiden Jancukers tidak menjawab, kemudian Ia mengambil Saxo miliknya kemudian mulai menembang ….

“berlayarlah di laut, laut keringat kami.. tertawalah di laut, laut keringat kami.. berselancarlah di lautan air mata kami.. tertawalah di lautan air mata kami”

Manusia berbudaya : “hmmmm .. mulai, orang tua cuma bisa nembang jadul!

Tiba-tiba sosok misterius datang dari dalam Saxo Presiden Jancukers. Matanya melotot, merah menyala, tangannya mengepal seperti ingin MMA, tanpa cas cis cus, dengan jurus sat set nya langsung berujar

Markesot : “dasar jangkrik!! Ikut arus global?? Mau berselancar?? Stupid!!”

Manusia berbudaya : “lhoo, Mbah ini siapa?”

Markesot : “aku Markesot, gausah tanya markesot itu sejenis apa! Yang jelas aku selalu ada di nyanyian-nyanyian dan tetesan air mata wong cilik. Aku selalu jadi debu-debu dan duri-duri di setiap jakun para pangku negoro. Aku selalu jadi gowesan di sela bibir para pejabat tinggi. Aku sudah gak tahan liat semua manusia main arus-arusan budaya dan teknologi begini. Sok-sok an mau berselancar, berenang aja kalian gak bisa!!! Tahan napas aja lebih susah kan dari pada nahan nyinyiran?? Gaya-gayaan mau berselancar di era Society 5.0!! wahahahahahahahahahha ngimpiiiiiiii”

Manusia berbudaya : “lho Mbah, kan sekarang ada pelampung to? Ada perahu karet Mbah, udah berapa lama si Mbah ada di dalam Saxo Presiden Jancukers? Dasar Jadul, gaptek!!”

Markesot : “Jangkrik!! Seharusnya saya yang nanya ke kalian, sudah berapa lama ngimpi dan ngumpet di ketiak peradaban modern? Sejak kapan ngintil di perahu teknologi modern? dan sejak kapan merasa kalian lebih tahu alam semesta? Gimana kalian mau belajar berenang kalo kaki kalian aja dirantai penguasa? Gimana kalian belajar mendayung kalon tangan kalian sibuk scroll Tiktok? Gimana kalian belajar mengenal arus kalom kalian selama ini nyataya kintir? Kalian generasi kintir!! Generasi nganyut!! Generasi yang Cuma ikut-ikutan!! Generasi krisis identitas!! Generasi yang gabisa bedain mana gula mana garam! Generasi yang gatau makanan favorit karna terlalu banyak sajian makanan di meja makan! Generasi yang luntur nilai moral dan etikanya! Generasi yang tidak bisa mengenal dirinya sendiri! Jangankan alam semesta, gimana kalian tau jadwal pipis kalian? Apakah kalian benar-benar merasa pengendali peradaban?

Markesot masih ngedumel sendiri..

Markesot : “Antroposen, antroposen, emangnya kalian bisa mengurai gula jadi energi? Menetralisir racun di tubuh? Memroses makanan menjadi kotoran dan menjadwalkan setiap kaki nyentuh lantai toilet, otomatis buang air? Bisaa? Haa? Emang bisa manusia modern yang katanya gagah teknologi berkreasi tanpa AI?

Manusia berbudaya : “STOPP!! Wiss Mbah, mumet ndasku. Terus piye Mbah? Biar kita tetap gagah teknologi namun tetap bisa berenang?

Markesot : “Hargai proses berpikirmu! Hargai setiap nilai-nilai yang ada di dalam dirimu! Temukan potensi terbaikmu! Gali keunggulan dalam dirimu! Open minded boleh, norak jangan! Belajar harus, bodoh jangan! Cari autentikmu sendiri !

Manusia berbudaya : “lhooo mana belajar berenangnya, Mbah?”

Markesot : “Maaf saya urat nadi wong cilik, bukan pelatih lumba-lumba”

Manusia berbudaya : “Gendengggg!!!!!!”

“berlayarlah di laut, laut keringat kami.. tertawalah di laut, laut keringat kami.. berselancarlah di lautan air mata kami.. tertawalah di lautan air mata kami”

Presiden Jancukers melanjutkan tembangnya dan Ia berjanji akan berhenti menembang jika Generasi Indonesia menjadi GENERASI PERENANG HANDAL PERADABAN…

Kabar Sekolah Lainnya

Assalamu'alaikum, Silahkan Masuk

–