Oleh: Citra Putri Soleha
Anak usia dini adalah anak yang berada pada rentang usia 0–6 tahun. Pada fase ini, anak memiliki begitu banyak keunikan serta rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Mereka ingin menyentuh, mencoba, melihat, dan mengenal berbagai benda yang ada di sekitarnya.
Rasa ingin tahu tersebut menunjukkan bahwa anak membutuhkan banyak stimulasi dan kesempatan untuk bereksplorasi. Melalui berbagai kegiatan, anak perlahan mengenal dirinya sendiri, lingkungannya, serta belajar memahami berbagai pengalaman yang ditemuinya.
Bagi anak usia dini, salah satu bentuk stimulasi terbaik adalah melalui bermain.
Bermain Bukan Sekadar Bermain
Bermain memberikan jalan bagi anak untuk menemukan banyak pengetahuan melalui pengalaman secara langsung. Semakin beragam kegiatan bermain yang dicoba, semakin banyak pula pengalaman dan pembelajaran yang diperoleh.
Pembelajaran tersebut tidak hanya berkaitan dengan kemampuan kognitif. Melalui bermain, berbagai sikap dan keterampilan juga dapat tumbuh, seperti keberanian, kemandirian, kemampuan sosial, pengendalian emosi, komunikasi, serta kemampuan menyelesaikan masalah sederhana.
Karena itu, proses bermain seharusnya tidak hanya dilihat sebagai kegiatan untuk mengisi waktu luang anak. Justru di dalam proses itulah terdapat begitu banyak kesempatan belajar.
Bagi anak usia dini, bermain adalah cara mereka belajar tentang dunia.
Kehadiran Orang Tua dalam Proses Tumbuh Kembang Anak
Salah satu tantangan yang dihadapi keluarga saat ini adalah kesibukan orang tua. Aktivitas pekerjaan dan berbagai tanggung jawab terkadang membuat waktu untuk mendampingi anak semakin terbatas.
Dalam kondisi seperti ini, perangkat digital seperti ponsel pintar sering menjadi pilihan untuk menemani anak ketika orang tua sedang sibuk.

Padahal, masa usia dini merupakan periode yang membutuhkan keterlibatan dan interaksi nyata. Anak membutuhkan kesempatan berbicara, bergerak, menyentuh, merasakan, bereksplorasi, serta mendapatkan respons dari orang-orang di sekitarnya.
Kehadiran orang tua menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Bukan sekadar berada bersama anak, tetapi benar-benar membersamai proses tumbuh kembangnya.
Ketika suatu saat orang tua melihat perkembangan anak berbeda dari yang diharapkan—misalnya dalam kemampuan berkomunikasi, memberikan respons, mengelola energi, ataupun berinteraksi dengan lingkungan—orang tua terkadang baru mulai bertanya:
“Mengapa anak saya belum merespons seperti anak seusianya?”
“Mengapa perkembangannya terlihat berbeda?”
“Apakah ada tahapan perkembangan yang terlewat?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu tidak seharusnya menjadi alasan untuk membandingkan seorang anak dengan anak lainnya. Setiap anak memiliki prosesnya masing-masing. Namun, pengamatan terhadap tumbuh kembang anak tetap penting agar kebutuhan stimulasi anak dapat diketahui sedini mungkin.
Ketika Sekolah dan Orang Tua Mulai Bekerja Sama
Dalam salah satu pengalaman pendampingan anak, guru menemukan adanya beberapa aspek perkembangan yang membutuhkan perhatian lebih ketika melakukan pengamatan di sekolah.
Setelah berdiskusi dengan orang tua, guru menyarankan agar tumbuh kembang Ananda diperiksakan kepada tenaga ahli. Dari proses tersebut diketahui bahwa terdapat beberapa tahapan perkembangan yang membutuhkan stimulasi tambahan.
Ananda kemudian mengikuti terapi sesuai kebutuhan dan orang tua mendapatkan arahan agar lebih banyak hadir dalam proses tumbuh kembangnya.
Pada tahap inilah kolaborasi menjadi sangat penting.
Orang tua, guru, dan tenaga profesional perlu berjalan bersama untuk memberikan stimulasi yang sesuai dengan kebutuhan anak.
Di tempat terapi, Ananda mendapatkan berbagai kegiatan sensori dengan pendampingan khusus. Sementara itu, di sekolah, Ananda diberikan kesempatan mencoba berbagai kegiatan yang berkaitan dengan tubuh, lingkungan, dan aktivitas fisik dengan pendampingan guru.
Apa yang dilakukan dalam proses terapi juga dilanjutkan dan diperkuat melalui kegiatan di sekolah maupun di rumah.
Perkembangan Tidak Selalu Terjadi dengan Cepat
Seiring berjalannya waktu dan semakin banyak kegiatan stimulasi yang dilakukan, perkembangan mulai terlihat.
Stimulasi bahasa yang diberikan secara konsisten membantu menambah kosakata. Dari yang awalnya mampu mengucapkan satu kata, perlahan berkembang menjadi dua kata dan seterusnya.
Kesadaran terhadap diri sendiri dan lingkungan juga mulai terbentuk.
Perkembangan tersebut memang tidak selalu berlangsung cepat. Namun, setiap kemajuan tetap merupakan sebuah pencapaian.
Pada proses inilah kesabaran orang tua sangat dibutuhkan.
Daripada terus membandingkan perkembangan anak dengan anak lain, akan jauh lebih baik apabila orang tua fokus terhadap perkembangan anaknya sendiri.
Setiap anak mempunyai perjalanan yang berbeda.
Bermain Bersama Anak di Rumah
Stimulasi tidak hanya dapat dilakukan di sekolah ataupun melalui kegiatan terapi. Di rumah, ayah dan bunda juga dapat memberikan berbagai pengalaman sederhana tetapi bermakna.
Bahkan, kegiatan tersebut sekaligus dapat memperkuat bonding atau kedekatan emosional antara orang tua dengan anak.
Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan bersama antara lain:
- berlari pagi bersama saat hari libur;
- bermain lempar dan tangkap bola;
- bergelayut;
- berenang bersama;
- bermain di halaman atau ruang terbuka;
- mengeksplorasi lingkungan sekitar;
- bermain menggunakan berbagai benda sederhana yang tersedia di rumah.
Ajak anak mengenal bahwa bermain di luar rumah juga menyenangkan.
Berikan sebanyak mungkin pengalaman bermain yang aman, positif, dan menyenangkan. Kurangi ketergantungan terhadap gadget dan berikan lebih banyak ruang bagi anak untuk berinteraksi secara nyata dengan orang tua maupun lingkungannya.
Pentingnya Bermain Sensorimotor
Salah satu jenis kegiatan yang penting bagi anak adalah bermain sensorimotor.
Sensorimotor berkaitan dengan rangsangan yang diterima anak melalui indra, kemudian diproses oleh otak dan menghasilkan respons berupa gerakan atau tindakan.
Kemampuan motorik secara umum terbagi menjadi motorik kasar dan motorik halus.
Motorik Kasar
Motorik kasar merupakan kemampuan tubuh melakukan gerakan yang melibatkan otot-otot besar, seperti tangan, kaki, serta seluruh tubuh.
Contoh kegiatan motorik kasar yang dapat diberikan kepada anak antara lain:
- Bermain bola
- Berjalan mengikuti garis
- Berlari
- Melompat
- Naik tangga
- Memanjat
- Menarik dan mendorong pintu
- Bergelayut
- Bermain sepeda
- Berenang
- Bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya
Kegiatan sederhana seperti berlari atau menaiki tangga mungkin terlihat biasa bagi orang dewasa. Namun bagi anak, kegiatan tersebut merupakan bagian dari proses mengenali tubuh dan membangun kemampuan geraknya.
Motorik Halus dan Aktivitas Sensori
Motorik halus berkaitan dengan kemampuan mengoordinasikan otot-otot kecil, terutama jari dan pergelangan tangan, serta koordinasi antara mata dan tangan.
Banyak kegiatan sehari-hari yang sebenarnya dapat dijadikan sebagai aktivitas stimulasi.
Misalnya:
- Memungut butiran nasi yang jatuh
- Meremas
- Merobek kertas
- Berlatih menolong diri sendiri, termasuk membuka makanan dengan bantuan alat yang sesuai dan pendampingan orang dewasa
- Bermain playdough
- Mengenal berbagai suhu dan tekstur
- Memasukkan benda ke dalam kotak
- Melukis
- Bermain ublek
Tidak selalu diperlukan mainan yang mahal.
Banyak benda sederhana di rumah yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan kegiatan bermain yang menarik dan bermakna.
Membacakan Buku Juga Merupakan Stimulasi
Selain melalui aktivitas fisik, orang tua dapat membangun perkembangan anak melalui kegiatan membaca.
Ayah atau bunda dapat membacakan buku sebelum tidur ataupun pada waktu-waktu tertentu.
Jangan hanya membacakan teks.
Ajak anak berinteraksi dengan apa yang ada di dalam buku.
“Ini gambar apa?”
“Warnanya apa?”
“Menurut kamu, dia sedang melakukan apa?”
Begitu juga ketika sedang melakukan aktivitas sehari-hari. Ajak anak berbicara mengenai benda yang sedang dilihat, disentuh, dipegang, ataupun dirasakan.
Interaksi-interaksi sederhana seperti ini membantu membangun komunikasi, kedekatan emosional, serta kesadaran anak terhadap dirinya dan lingkungannya.
Mainan Tidak Harus Mahal, yang Terpenting adalah Prosesnya
Sebenarnya ada begitu banyak kegiatan yang dapat dilakukan untuk membantu memberikan stimulasi kepada anak.
Saat ini inspirasi permainan anak bahkan sangat mudah ditemukan. Namun ada satu hal yang perlu selalu diingat:
bermain bukan tentang seberapa mahal mainannya.
Yang jauh lebih penting adalah bagaimana orang tua benar-benar hadir dan terlibat di dalam proses tersebut.
Anak mungkin suatu saat melupakan mainan apa yang pernah diberikan kepadanya.
Namun pengalaman ketika ayah dan bunda berlari bersamanya, bermain bola bersama, membacakan buku, tertawa, mendengarkan ceritanya, serta menemani dirinya mengeksplorasi dunia akan menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembangnya.
Karena pada akhirnya, bagi anak usia dini—

