Bersenja Gurau: Nilai Religi dalam Sebuah Karya Seni

Oleh: Meiria

Siapa yang tidak mengenal Raim Laode?

Musisi asal Sulawesi ini mengawali perjalanan kariernya sebagai seorang komika, kemudian semakin dikenal luas melalui karya-karyanya di dunia musik. Pada tahun 2023, Raim Laode bahkan meraih penghargaan Anugerah Musik Indonesia (AMI) sebagai Pencipta Lagu Pop Terbaik melalui lagu “Komang”.

Namun, tulisan ini bukan hendak membahas perjalanan pribadi sang seniman. Ada hal menarik lain yang dapat kita telaah dari salah satu karyanya, yaitu lagu “Bersenja Gurau”.

Di tengah banyaknya lagu populer yang mengangkat tema percintaan dan romantisme antarmanusia, Bersenja Gurau menawarkan ruang refleksi yang berbeda. Di dalamnya terdapat kata-kata yang dapat membawa pendengar pada perenungan tentang harapan, kesabaran, kehidupan, serta hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

Sebuah karya seni ternyata tidak hanya dapat dinikmati melalui nada dan keindahan kata. Di baliknya, kita juga dapat menemukan nilai-nilai yang mengajak diri untuk merenung.

Selalu Ada Harapan di Balik Kesulitan

Salah satu pesan yang kuat dalam lagu Bersenja Gurau adalah tentang harapan.

Gambaran mengenai pelangi yang hadir setelah mendung seolah mengingatkan kita bahwa kesulitan bukanlah akhir dari segala sesuatu. Di balik peristiwa yang tidak menyenangkan, selalu ada hikmah yang mungkin belum mampu kita pahami saat itu.

Pesan tersebut selaras dengan firman Allah Swt. dalam QS. Al-Insyirah ayat 6:

“Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.”

Ayat tersebut menjadi pengingat sederhana, tetapi begitu kuat, bahwa seorang manusia tidak seharusnya mudah kehilangan harapan ketika menghadapi kesulitan.

Hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita rencanakan. Ada masa ketika keinginan belum tercapai, keadaan terasa berat, atau jalan yang kita tempuh seolah semakin sempit.

Namun, seorang mukmin diajarkan untuk tetap percaya bahwa setiap kesulitan memiliki jalan keluarnya.

Mungkin kemudahan itu tidak hadir sesuai dengan waktu yang kita inginkan. Mungkin pula bentuknya tidak selalu sama dengan apa yang kita harapkan.

Namun keyakinan bahwa Allah selalu menyertai setiap proses itulah yang membuat seseorang mampu terus berjalan.

Ketika Cinta kepada Allah Menjadi Tempat Bersandar

Ada bagian lain dalam lagu tersebut yang menggambarkan tentang seseorang yang akan tetap hadir menemani dalam setiap penderitaan dan menjadi tempat ternyaman untuk bersandar.

Jika dimaknai secara sederhana, kata-kata seperti itu mungkin terdengar sebagai ungkapan kasih sayang antarmanusia.

Namun, kita juga dapat melihatnya dari perspektif yang lebih dalam.

Bagaimana jika kita memaknainya sebagai pengingat tentang kedekatan Allah kepada hamba-Nya?

Dalam kehidupan, manusia terkadang merasa seolah menghadapi semuanya sendirian. Ada persoalan yang sulit diceritakan kepada orang lain. Ada kekhawatiran yang hanya dapat disimpan dalam hati. Ada pula keinginan yang mungkin tidak dapat dipahami siapa pun.

Pada saat seperti itulah seorang manusia perlu kembali menyadari bahwa selalu ada Allah sebagai tempat untuk bersandar.

Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, digambarkan bahwa ketika seorang hamba mendekatkan dirinya kepada Allah, maka Allah akan memberikan kedekatan yang jauh lebih besar kepadanya.

Pesan tersebut menunjukkan betapa luasnya kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.

Kasih sayang antarmanusia dapat berubah seiring keadaan dan waktu. Namun, kasih sayang Allah tidak bergantung kepada kondisi duniawi.

Karena itu, ketika hidup terasa berat, jangan sampai kita merasa benar-benar sendiri.

Ada doa.

Ada sujud.

Ada tempat untuk mengadu.

Dan ada Allah yang senantiasa membuka pintu bagi hamba-Nya yang ingin kembali.

Kita Milik-Nya dan Akan Kembali kepada-Nya

Lagu Bersenja Gurau juga mengajak kita mengingat satu kenyataan mendasar dalam kehidupan: manusia adalah milik Allah dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.

Kesadaran tersebut seharusnya mengubah cara kita memandang berbagai persoalan hidup.

Tidak ada manusia yang menjalani kehidupan tanpa ujian.

Ada yang diuji melalui kesehatan.

Ada yang diuji melalui pekerjaan.

Ada yang diuji melalui keluarga.

Ada pula yang diuji melalui kehilangan, kegagalan, ataupun sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Namun, ujian setiap manusia tentu berbeda.

Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 286:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Ayat tersebut bukan berarti bahwa ujian akan selalu terasa mudah.

Sebaliknya, ada kalanya manusia merasa begitu lelah hingga bertanya apakah dirinya masih mampu bertahan.

Namun di sinilah keimanan bekerja.

Seorang mukmin meyakini bahwa Allah mengetahui batas kemampuan hamba-Nya jauh lebih baik daripada manusia memahami dirinya sendiri.

Karena itu, bersabar bukan berarti tidak pernah merasa sedih.

Bertawakal juga bukan berarti berhenti berusaha.

Sabar adalah kemampuan untuk tetap berjalan meskipun keadaan belum sesuai dengan harapan, sedangkan tawakal adalah keyakinan bahwa setelah seluruh ikhtiar dilakukan, hasil akhirnya tetap berada dalam ketetapan Allah.

Ketika Karya Seni Menjadi Ruang untuk Berdakwah

Ada pesan dalam setiap tindakan.

Begitu pula dengan sebuah karya seni.

Musik dapat menjadi hiburan. Kata-kata dapat menjadi sesuatu yang indah untuk didengar. Namun ketika di dalam sebuah karya terselip pesan kebaikan, seni dapat memiliki makna yang lebih luas.

Melalui Bersenja Gurau, pendengar tidak hanya diajak menikmati rangkaian nada, tetapi juga dapat menemukan ruang untuk merenungkan kehidupannya.

Tentang bagaimana menghadapi kesulitan.

Tentang pentingnya memiliki harapan.

Tentang kesabaran.

Tentang doa.

Tentang tempat manusia seharusnya bersandar.

Dan tentang kesadaran bahwa pada akhirnya manusia akan kembali kepada Sang Pencipta.

Dakwah memang tidak selalu hadir melalui mimbar atau ceramah.

Nasihat dapat hadir melalui tulisan.

Melalui percakapan.

Melalui perilaku.

Bahkan melalui sebuah karya seni.

Ketika sebuah karya mampu membuat seseorang mengingat Allah, memperbaiki cara pandangnya, atau mendorong dirinya untuk melakukan kebaikan, maka karya tersebut telah memberikan manfaat yang lebih dari sekadar hiburan.

Nilai Religi Tidak Berhenti pada Karya Seni

Nilai religius tentu tidak hanya dapat ditemukan dalam karya seni.

Lebih dari itu, nilai agama seharusnya menjadi dasar dalam setiap hal yang kita lakukan.

Seorang guru, misalnya.

Mengajar bukan hanya pekerjaan yang dilakukan untuk memenuhi kewajiban profesi. Ketika diniatkan untuk berbagi ilmu dan memberikan manfaat kepada orang lain, pekerjaan tersebut dapat menjadi bagian dari amal kebaikan.

Ilmu yang diberikan kepada peserta didik mungkin akan terus digunakan bertahun-tahun kemudian.

Bahkan ketika sang guru sudah tidak lagi mengajar mereka.

Begitu pula dengan seorang pelajar.

Belajar tidak semestinya hanya dipandang sebagai kewajiban sekolah, mengejar nilai, atau menyelesaikan tugas.

Menuntut ilmu merupakan proses untuk memperbaiki diri dan menjadi manusia yang lebih bermanfaat.

Karena itu, rasa malas, sikap meremehkan ilmu, ataupun tidak menghormati guru seharusnya perlahan-lahan diperbaiki.

Hal serupa berlaku ketika seseorang bekerja.

Bekerja dapat menjadi bagian dari ibadah ketika dilakukan dengan niat yang baik serta melalui cara yang benar.

Seseorang bekerja untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya, memberikan manfaat kepada orang lain, serta menjaga kehormatan dirinya.

Namun, tujuan yang baik harus tetap ditempuh melalui jalan yang baik.

Ketika nilai agama dikesampingkan, pekerjaan yang seharusnya membawa kebaikan justru dapat berubah menjadi sumber keburukan.

Korupsi, mengambil hak orang lain, berbuat curang, ataupun melakukan berbagai tindakan tidak terpuji sering kali bermula ketika manusia mengejar hasil tetapi melupakan nilai yang seharusnya menjadi pedoman.

Menjadikan Nilai Agama sebagai Pedoman

Tidak ada manusia yang sempurna.

Setiap orang pernah melakukan kesalahan.

Setiap manusia juga memiliki kekurangan dan kelemahan masing-masing.

Namun, Allah memberikan manusia akal untuk berpikir dan hati untuk mempertimbangkan mana yang baik dan mana yang buruk.

Karena itu, kehidupan seharusnya menjadi proses untuk terus belajar memperbaiki diri.

Seni dapat menjadi salah satu pengingat.

Pekerjaan dapat menjadi ibadah.

Ilmu dapat menjadi amal jariah.

Kesulitan dapat menjadi jalan untuk semakin dekat kepada Allah.

Dan keberhasilan dapat menjadi ruang untuk semakin banyak bersyukur.

Pada akhirnya, nilai religius bukan hanya sesuatu yang kita bicarakan atau dengarkan.

Nilai itu seharusnya hadir dalam cara kita berpikir, berkarya, belajar, bekerja, memperlakukan orang lain, serta menjalani kehidupan sehari-hari.

Sebab seindah apa pun sebuah karya, yang jauh lebih bermakna adalah ketika keindahan tersebut mampu mengantarkan seseorang kepada kebaikan.

Dan mungkin, itulah salah satu kekuatan sebuah karya seni: mampu menyentuh perasaan, sekaligus mengingatkan hati untuk kembali kepada-Nya.

Tabik.

Kabar Sekolah Lainnya

Assalamu'alaikum, Silahkan Masuk