Pendidikan kini terlalu fokus pada hasil akhir, bukan proses. Nilai rapor menjadi tolok ukur
utama, seolah-olah angka dapat sepenuhnya menggambarkan kecerdasan dan potensi
seseorang padahal, hidup tidak selalu tentang hasil instan, ada proses jatuh, bangkit, ragu dan
mencoba kembali. Ketika pendidikan tidak memberi ruang untuk proses ini, peserta didik
tumbuh dengan ketakutan akan gagal. Mereka belajar menghindari kesalahan, bukan belajar
dari kesalahan.
Dalam perjalanan hidup seorang anak, ada sosok yang berdiri paling dekat setelah orang tua,
merekalah para guru. Mereka bukan hanya mengajarkan huruf dan angka, tetapi membentuk
jiwa yang kelak menentukan arah masa depan, seorang guru tidak menanam benih di tanah,
tetapi di hati manusia dan yang tumbuh dari benih itu dapat menjadi pohon yang menaungi
kehidupan.
Di setiap kelas yang sederhana maupun megah, guru hadir dengan dua hal: ilmu dan kasih
sayang. Ilmu memberikan cahaya, kasih sayang memberi arah, ketika seorang guru
mengucapkan, “Bismillah, kita mulai belajar,” saat itu pula masa depan sedang dibentuk
perlahan-lahan, satu kalimat demi satu kalimat.
Guru tidak hanya menuntun akal, tetapi juga membimbing adab, mereka mengajarkan bahwa
sebelum menjadi orang hebat, seseorang harus menjadi manusia yang baik, bahwa
kecerdasan tanpa akhlak hanyalah ruang kosong tanpa makna, bahwa pengetahuan tanpa
ketundukan kepada Allah hanyalah langkah yang tersesat.
Di tangan merekalah, masa depan dipahat dengan sabar, mereka telah menghapus kebodohan
dengan kesungguhan, mereka menegakkan karakter dengan teladan dan mereka
membangunkan mimpi yang mungkin tidak pernah lahir tanpa dorongan.
Guru memahami bahwa setiap murid memiliki musim tumbuhnya sendiri, banyak murid
yang lambat mengerti, banyak pula yang cepat memahami. Namun guru adil kepada semua
yang lambat diberi ruang, yang cepat diberi arah, mereka percaya, setiap anak menyimpan
sinar seperti matahari yang sedang menunggu waktu terbitnya. Di titik inilah dalil menjadi
penguat, bahwa Islam mengangkat kemuliaan ilmu dan orang yang mengajarkannya:
ﻗُلْ ھَلْ ﯾَﺳْﺗَوِي اﻟﱠذِﯾنَ ﯾَﻌْﻠَﻣُونَ وَاﻟﱠذِﯾنَ ﻻَ ﯾَﻌْﻠَﻣُونَ
“Katakanlah, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak
mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)
Dalam ayat ini tersirat pesan bahwa guru adalah jembatan yang mengantarkan manusia dari
gelap menuju terang, mereka tidak sekadar menyampaikan ilmu, mereka memuliakan
manusia dengan ilmu itu, ketika seorang guru mengajarkan satu huruf, sesungguhnya ia
sedang menambahkan satu cahaya pada kehidupan seseorang.
Guru adalah pemilik langkah yang pelan, namun dampaknya abadi, suara mereka mungkin
memudar, tetapi ajaran mereka terus hidup, tangan mereka mungkin menua, tetapi pengaruh
mereka tidak pernah mati, masa depan bangsa sunyi tanpa langkah para guru Setiap
keberhasilan seseorang selalu tersembunyi sosok guru di belakangnya. Setiap ulama, setiap
pemimpin, setiap penebar kebaikan semuanya pernah duduk kecil di hadapan seorang guru,
maka wajar jika Islam memuliakan guru, karena mereka memuliakan umat dengan ilmu.
Dan bagi setiap murid menghormati guru bukan hanya adab, tetapi tanda kebersihan hati,
mendoakan guru bukan sekadar balas budi, tetapi bentuk syukur atas cahaya yang mereka
berikan, sebab masa depan tidak tercipta sendiri ia dibangun dari nasihat, teguran, senyuman
dan waktu yang tak pernah dihitung oleh guru.
Pada guru, kita menemukan masa depan.
Pada guru, kita belajar menjadi manusia.
Pada guru, kita melihat betapa ilmu dapat mengubah dunia.
Dan pada guru pula, kita belajar bahwa cahaya tidak pernah merugi saat dibagikan.
Semoga Allah merahmati guru-guru kita, mengampuni kekurangan mereka dan
melipatgandakan pahala untuk setiap huruf yang mereka ajarkan, karena dari tangan
merekalah generasi dibentuk dan dari hati merekalah masa depan dimulai.


