Untuk Kawan Seperjuangan

Oleh:

Anjali Anindra Razzaqi
Kelas 6 Cairo SDIT Mentari Indonesia

Hai Bunda.
Ini aku.
Anakmu.
Entah yang pertama, kedua maupun yang ketiga.
Yang sering kau beri harapan setinggi Burj Khalifa.
Yang terkadang kau didik terlalu keras.
Sampai aku terlihat seperti orang yang tersesat.

Hai Bunda.
Maaf ya.
Banyak ekspetasi mu yang belum berhasil aku wujudkan.
Bahkan hanya untuk menghilangkan huruf “B” di rapot sekolah yang sangat kau banggakan.

Hai Bunda.
Maaf ya.
Aku bukan dia.
Bukan dia yang kau inginkan.

Hai Bunda.
Maaf ya.
Kalau yang hadir dan yang lahir di depanmu, bukan seperti apa yang kau mau.

Hai Bunda.
Maaf ya.
Kalau yang lahir bukan dia, tapi aku.

Si bodoh.
Si payah.
Si tak berguna.
Si bodoh yang merepotkan.
Si anak yang harusnya tak lahir ke dunia.

Hai Bunda.
Maaf ya.
Kelahiran ku dan kehadiran ku, malah menambah beban pikiran mu. Beban yang seharusnya tak kau pikul.

Hai Bunda.
Maaf ya.
Anakmu ini, seringkali merasa hilang arah, hilang tujuan dan ingin mengakhirinya dengan menghampiri tuhan.

Maaf ya.
Anakmu ini, seringkali menangis saat tengah malam.
Anakmu ini takut.

Takut gagal.
Takut kecewa.
Takut tak bisa membanggakan.
Takut menjadi si bodoh yang tak berguna.
Takut menjadi orang yang tersesat.
Takut menjadi seseorang yang kau benci.

Bunda.
Maaf ya.
Dulu, aku mencari tempat untuk pulang di rumah orang.
Akhirnya aku sadar, sejahat apapun perlakuan bunda, setajam apapun omongan bunda, sekeras apapun didikan bunda. Tetaplah bunda tujuan ku pulang, meski aku sering ragu untuk kembali ke rumah.

Bun..
Maaf ya.
Aku bukan orang yang harusnya ada di hadapanmu.
Harusnya aku tidak disini, harusnya aku menyerah saja saat masih berlomba-lomba untuk tinggal di rahimmu.

Bun..
Aku mau bilang.
Aku capek, tapi bunda pasti lebih capek.
Tapi boleh ya, besok
Capeknya jangan dilampiaskan ke aku.
Hehe.

Maaf Bunda.
Terimakasih Bunda.
Maaf sudah merepotkanmu.
Terimakasih sudah merawatku.