Temuan Penelitian di TPQ Al-Ikhlas Kabupaten Bekasi
Penulis: Muhamad Yasin
Sumber: Ringkasan hasil penelitian Skripsi Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Institut Agama Islam Nusantara Bekasi, 2026.
Lembaga pendidikan Al-Qur’an memiliki peran penting dalam menanamkan kemampuan membaca Al-Qur’an sekaligus membangun karakter religius peserta didik sejak usia dini. Namun, keberhasilan sebuah Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) tidak hanya ditentukan oleh kualitas proses pembelajaran di dalam kelas.
Di balik lembaga yang berkembang dengan baik, terdapat tata kelola yang mencakup pengelolaan kurikulum, tenaga pendidik, keuangan, sarana dan prasarana, hubungan masyarakat, hingga pelaksanaan berbagai program kelembagaan.
Dalam keseluruhan proses tersebut, kepala TPQ memegang peranan yang sangat strategis.
Penelitian yang dilakukan di TPQ Al-Ikhlas Kabupaten Bekasi menunjukkan bahwa kualitas kepemimpinan kepala TPQ memiliki pengaruh yang kuat terhadap keberhasilan pengelolaan lembaga. Kepemimpinan yang efektif bukan sekadar kemampuan memberikan arahan, melainkan juga kemampuan menjadi teladan, membangun komunikasi, menggerakkan tenaga pendidik, melakukan supervisi, mendorong inovasi, serta memastikan setiap program berjalan sesuai tujuan lembaga.
Kepemimpinan dan Kemajuan Lembaga Pendidikan Al-Qur’an
Seorang kepala TPQ pada dasarnya tidak hanya menjalankan fungsi administratif. Ia juga menjadi penggerak utama yang menghubungkan berbagai unsur dalam organisasi.
Kepala TPQ perlu mampu membangun visi bersama, menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, memberikan ruang bagi ustadz dan ustadzah untuk berkembang, serta memastikan seluruh sumber daya lembaga dikelola secara efektif dan bertanggung jawab.
Berangkat dari kondisi tersebut, penelitian ini menganalisis pengaruh beberapa aspek kepemimpinan kepala TPQ terhadap manajemen kelembagaan, khususnya kepemimpinan transformasional, kepemimpinan demokratis, serta peran EMASLIM.
Penelitian Melibatkan 35 Ustadz dan Ustadzah
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional kausal.
Sebanyak 35 ustadz dan ustadzah TPQ Al-Ikhlas menjadi populasi sekaligus sampel penelitian dengan menggunakan teknik sampling jenuh.
Data utama diperoleh melalui kuesioner dengan skala Likert, sementara observasi dan dokumentasi digunakan sebagai data pendukung. Selanjutnya, data dianalisis melalui statistik deskriptif, regresi linear sederhana, dan regresi linear berganda dengan bantuan SPSS versi 25.
Pendekatan tersebut digunakan untuk mengetahui sejauh mana berbagai pola kepemimpinan kepala TPQ berpengaruh terhadap kualitas manajemen kelembagaan.
Kepemimpinan Transformasional Memberikan Pengaruh Positif
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap manajemen kelembagaan, dengan nilai R² sebesar 58,8%.
Kepemimpinan transformasional dapat diwujudkan melalui keteladanan seorang pemimpin, kemampuan memberikan motivasi yang inspiratif, keberanian mendorong kreativitas, serta perhatian terhadap pengembangan kompetensi tenaga pendidik.
Dalam konteks TPQ, kepala lembaga tidak hanya dituntut memastikan kegiatan berjalan, tetapi juga mampu membangun semangat bersama agar setiap ustadz dan ustadzah merasa menjadi bagian penting dalam kemajuan lembaga.
Ketika seorang pemimpin mampu memberikan arah sekaligus inspirasi, tenaga pendidik akan lebih terdorong untuk berkembang, berinovasi, dan memberikan kontribusi terbaik bagi peserta didik maupun lembaga.
Kepemimpinan Demokratis Mendorong Partisipasi Guru
Selain transformasional, kepemimpinan demokratis juga terbukti memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap manajemen kelembagaan, dengan nilai R² sebesar 53,9%.
Pola kepemimpinan ini dapat diterapkan melalui musyawarah, komunikasi dua arah, keterbukaan terhadap gagasan, serta pembagian tanggung jawab secara proporsional.
Keterlibatan ustadz dan ustadzah dalam proses pengambilan keputusan dapat menumbuhkan rasa memiliki terhadap lembaga. Mereka tidak sekadar menjalankan tugas, tetapi ikut menjadi bagian dari proses pengembangan organisasi.
Budaya komunikasi yang terbuka juga membantu lembaga membangun hubungan kerja yang lebih sehat, kolaboratif, dan produktif.
EMASLIM Menjadi Aspek dengan Kontribusi Terbesar
Salah satu temuan paling menonjol dalam penelitian ini terdapat pada penerapan peran EMASLIM, yaitu:
Educator, Manager, Administrator, Supervisor, Leader, Innovator, dan Motivator.
Peran EMASLIM memiliki R² sebesar 67,1%, sehingga menjadi aspek yang memberikan kontribusi terbesar terhadap manajemen kelembagaan dibandingkan dua aspek kepemimpinan lainnya yang diteliti.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa seorang kepala TPQ idealnya mampu menjalankan berbagai peran secara terpadu.
Sebagai Educator, kepala TPQ berperan dalam membina dan mengembangkan tenaga pendidik. Sebagai Manager, ia mengelola sumber daya dan program lembaga. Dalam fungsi Administrator, kepala TPQ memastikan administrasi lembaga tertata dengan baik.
Peran Supervisor menuntut adanya pembinaan dan pengawasan terhadap proses pendidikan. Sebagai Leader, kepala TPQ memberikan arah sekaligus keteladanan. Sebagai Innovator, pemimpin perlu mendorong pembaruan dan kreativitas. Sementara sebagai Motivator, kepala TPQ memiliki tanggung jawab membangun semangat seluruh warga lembaga.
Ketujuh peran tersebut saling berkaitan dan membantu mengintegrasikan berbagai komponen manajemen sehingga lembaga dapat berjalan lebih efektif dan efisien.
Pengaruh Kepemimpinan Mencapai 84,6 Persen
Ketika kepemimpinan transformasional, kepemimpinan demokratis, dan peran EMASLIM dianalisis secara bersama-sama, hasil penelitian menunjukkan pengaruh yang semakin kuat.
Ketiga aspek tersebut secara simultan memiliki R² sebesar 84,6% terhadap manajemen kelembagaan, yang dalam penelitian ini termasuk dalam kategori sangat kuat.
Artinya, kualitas kepemimpinan menjadi salah satu faktor yang sangat penting dalam membangun pengelolaan lembaga pendidikan Al-Qur’an yang efektif.
Temuan ini sekaligus menegaskan bahwa keberhasilan sebuah TPQ tidak cukup hanya mengandalkan program yang baik. Program tersebut memerlukan seorang pemimpin yang mampu menggerakkan orang-orang di dalam organisasi untuk menjalankannya secara konsisten.
Membangun Tata Kelola TPQ yang Lebih Profesional
Hasil penelitian di TPQ Al-Ikhlas memberikan sejumlah pembelajaran penting bagi para kepala TPQ maupun pengelola lembaga pendidikan Al-Qur’an.
Evaluasi diri dan evaluasi program perlu dilaksanakan secara berkala sehingga lembaga dapat mengetahui program yang sudah berjalan baik maupun bagian yang masih memerlukan perbaikan.
Dalam proses pengambilan keputusan, keterlibatan ustadz dan ustadzah melalui musyawarah dan komunikasi terbuka juga menjadi bagian penting dalam membangun kebersamaan.
Pengembangan kompetensi tenaga pendidik perlu dilakukan secara berkelanjutan. Pada saat yang sama, manajemen kurikulum, sumber daya manusia, keuangan, sarana dan prasarana, serta hubungan masyarakat harus dikelola secara terencana, transparan, dan akuntabel.
Tidak kalah penting, TPQ perlu membangun budaya kerja yang saling menghargai dan kolaboratif serta terus memberikan ruang terhadap inovasi pembelajaran maupun inovasi dalam pengelolaan lembaga.
Kepemimpinan Bukan Sekadar Jabatan
Penelitian ini memberikan gambaran bahwa kepemimpinan kepala TPQ memiliki hubungan yang sangat erat dengan kualitas manajemen kelembagaan.
Kepemimpinan transformasional dan demokratis memberikan pengaruh positif dan signifikan. Sementara itu, penerapan peran EMASLIM menjadi aspek yang memberikan kontribusi paling besar.
Secara bersama-sama, ketiga aspek kepemimpinan tersebut mampu menjelaskan 84,6% variasi manajemen kelembagaan di TPQ Al-Ikhlas Kabupaten Bekasi.
Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan lembaga pendidikan Al-Qur’an tidak hanya bergantung pada seberapa banyak program yang dirancang, tetapi juga pada kualitas orang yang memimpin dan menggerakkan program-program tersebut.
Pemimpin yang mampu mendidik, mengelola, membina, mengawasi, berinovasi, memberikan keteladanan, dan memotivasi akan memberikan fondasi yang lebih kuat bagi tumbuhnya lembaga pendidikan Al-Qur’an yang profesional, efektif, serta memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat.
Penguatan Kepemimpinan untuk Masa Depan TPQ
Penguatan kapasitas kepala TPQ menjadi salah satu hal penting yang perlu mendapatkan perhatian dari yayasan maupun pengelola lembaga.
Pelatihan kepemimpinan dan manajemen dapat dilaksanakan secara berkala agar kepala TPQ semakin mampu menjalankan peran dan tanggung jawabnya. Penerapan EMASLIM, khususnya pada fungsi manajerial, supervisi, inovasi, dan motivasi, juga perlu terus diperkuat.
Selain itu, evaluasi manajemen kelembagaan perlu menjadi bagian dari budaya organisasi, bukan hanya dilakukan ketika muncul persoalan.
Praktik-praktik baik yang telah diterapkan di TPQ Al-Ikhlas juga dapat menjadi bahan berbagi pengalaman dan pembelajaran bagi lembaga pendidikan Al-Qur’an lainnya.
Pada akhirnya, kepemimpinan yang kuat akan melahirkan tata kelola yang kuat. Dari tata kelola yang baik inilah TPQ dapat terus berkembang sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya mengajarkan kemampuan membaca Al-Qur’an, tetapi juga berkontribusi dalam membangun karakter dan generasi yang lebih baik.
Sumber Penelitian:
Muhamad Yasin. (2026). Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah Terhadap Manajemen Kelembagaan di TPQ Al-Ikhlas Kabupaten Bekasi. Skripsi, Institut Agama Islam Nusantara Bekasi.
Kata Kunci: Kepemimpinan Kepala TPQ, Kepemimpinan Transformasional, Kepemimpinan Demokratis, EMASLIM, Manajemen Kelembagaan, Pendidikan Al-Qur’an, TPQ.





