Hari ke-14 mengajak kita merefleksikan kembali instrumen komunikasi kita: Lisan. Di era digital, lisan bertransformasi menjadi tulisan di media sosial, komentar di grup WhatsApp, atau argumen dalam rapat formal. Puasa yang berkualitas adalah yang mampu mempuasakan lisan dari ghibah (gosip), namimah (adu domba), dan kata-kata yang tidak produktif.
Secara profesional, reputasi seseorang sering kali dibangun atau dihancurkan oleh kata-katanya. Lisan yang terjaga mencerminkan kejernihan berpikir dan kontrol diri yang kuat. Di tengah fase ampunan ini, mari kita bersihkan lisan kita dari segala bentuk toksisitas komunikasi. Berbicara secukupnya dan hanya yang bermanfaat akan menjaga energi kita tetap fokus pada hal-hal yang strategis.
Prinsip komunikasi dalam Islam ditegaskan oleh Rasulullah SAW sebagai tolok ukur keimanan:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُمُ
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47)
Refleksi Strategis Hari Ini: Sebelum Anda mengirimkan pesan teks, memberikan komentar, atau berbicara dalam rapat, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah ini benar? Apakah ini baik? Apakah ini perlu?” Jika salah satu jawabannya adalah tidak, maka diam adalah pilihan yang jauh lebih profesional dan berpahala.





