Libur telah tiba. Libur kali ini Hilma hanya di rumah. Ia menghabiskan liburan dengan membantu orang tua. Ia beres-beres rumah dan juga belajar memasak dengan ibu. Selain itu, ia juga menjaga adik ketika ibu kerepotan. Sebenarnya ia ingin liburan seperti teman-temannya, jalan-jalan ke tempat wisata. Akan tetapi, orang tuanya tidak punya cukup uang. Ayahnya adalah seorang pegawai kelurahan sedangkan ibunya membuka warung di depan rumah. Kadang-kadang Hilma menjaga warung sambil menjaga adiknya ketika ibu sedang memasak di dapur atau sedang ada keperluan.

“ Hilma, Bisa kau jaga warung sebentar? Ibu belum sholat Ashar nih.” Kata ibu. “ Baik ibu, serahkan saja kepadaku Bu.” Kata Hilma dengan percaya diri. Hilma menjaga warung dambil bermain dengan adik kecilnya. “ Neng Hilma, ada gula? Nenek beli sekilo ya.” “ Iya nek, sebentar, Hilma ambilkan. Ini Nek. Sembilan ribu rupiah yaaa.” Ujar gadis kecil itu. “ Kamu tidak sekolah neng?” Tanya nenek Sumi“ Aku sedang libur Nek.” Jawab Hima riang “ Apa kamu tidak ingin liburan?”“ Ah enggak nek, kata ibu, lebih baik uangnya  ditabung saja.” “ Begitu ya….kalau kamu bosan di rumah, bisa main ke rumah nenek yaa….” “ Iya nek, kapan-kapan.”

Nenek Sumi berlalu. Kasihan nenek, batin Hilma. Nenek itu tinggal sendirian, sementara anak-anaknya tinggal di kota besar. Ntar deh, aku cari waktu buat main, gumam Hilma.

***

Hari Minggu, Hilma berniat untuk main ke rumah nenek Sumi. Kan, ada ayah yang bisa membantu ibu, pikirnya. “ Ibu, aku mau main ke rumah nenk Sumi ya.” “ Nenek Sumi? Yang rumahnya di ujung gang itu?” “Iya….pengin main aja. Beberapa hari yang lalu nenek bilang suruh main. Nenek Sumi  kesepian.” “ Baiklah,…..oh ya….ini ada kue talam buatan ibu. Sekalian kamu bawa ya buat nenek. Sebagai oleh-oleh” Kata ibu.“ Oke….Hilma ganti baju dulu ya….ibu masukkan kuenya ke kantong dulu yaa….hehe..heee.”“ Baiklah anak ibu yang sholehah. Zuhur pulang ya…”

Tak berapa lama, Hilma pun berangkat setelah pamitan dengan ayah dan ibu. Adik kecilnya ingin ikut tapi segera digendong ayahnya. Oh,ya nenek Sumi kan pintar membatik, siapa tahu aku bisa sekalian belajar, gumam Hilma. “ Assalamualaikum Nenek….”“ Waalaikumsalam…..Ehhh…Hilma….kau datang juga. Ayo masuk. Kebetulan, ada cucu nenek yang datang dari Bandung.”

Haduuhhh…..gimana ya….engga enak juga nih, pikir Hilma. Tak berapa lama…muncul anak perempuan yang kira-kira sudah SMA“ Hai Hilma, ayo kemari. Oh ya, namaku Rani. Kamu bisa manggil aku kak Rani.” Tangan itu menjabatku mengajak ke dalam. Cantik sekali kak Rani dengan jilbab ungunya.

Aku duduk di karpet ruang tamu. Kak Rani ke dalam sambil membawa kue talam buatan ibu. Kulihat karpetnya agak berantakan. Ada gunting, kain dan sesuatu yang ingin aku tahu namanya.

Kak Rani datang membawa beberapa makanan. Diapun menghidangkan di karpet. “ Hai Hilma, ini nenek menggoreng cireng yang aku bawa. Cobain deh enakkk. “ “ Mmmm…iya Kak, enakkk….oh ya….ini apaan yang di karpet kak?” tanya Hilma sambil menunjuk. “ Oh..ini…kak Rani sedang iseng membuat bros. Kalau brosnya  bagus bisa dijual.”“ Kak Rani terampil ya…”“ Hilma mau belajar bikin bros juga?”“ Boleh.” Jawab Hilma sambil mengangguk.

Mereka  berduapun asyik membuat bros. Satu per satu kak Rani memberi tahu nama alat-alat beserta bahannya. Wah….boleh juga nih, tidak jadi  belajar membatik, membuat bros pun oke juga, pikir Hilma.

Sudah hampir satu jam mereka duduk mengkreasi bros dan bercanda. Nenek Sumi sibuk di dapur.“ Taraaa…..sudah jadi.” Ucap Hilma bangga.“ Hemmm….boleh juga Hilma. Awal yang bagus….”

Kemudian…..nenek keluar dari dapur. “ Sudah membuat brosnya. Wahh….cantik ya….. Oh, ya…nenek sudah selesai masak. Kita makan bareng yukk.”“ Nenek masak apa?” Tanya kak Rani.“ Nenek masak kesukaanmu, sayur asem, tempe goreng sama jambal roti pedas.”“ Kedengarannya enakkk nek.” Ujar Hilma

Mereka beranjak ke meja makan. Sedaap sekali. Mereka makan dengan lahap. Selepas itu, Hilma membantu kak Rani mencuci piring. “ Nek, kak Rani,….Hilma mau pulang yaa…kata ibu, pulang sebelum zuhur.” “ wahh…cepat sekali yaa…makasih ya mau main, makasih juga kue talamnya. “ kata nenek. “ Eh,….tunggu Hil.” Kak Rani ke dalam, seperti hendak mengambil sesuatu.“ Ini, buat kamu. Oh ya brosnya bawa pulang ya, kasih lihat ke ibu…” senyum Kak Rani“ Makasih kak…lain kali boleh Hilma main lagi yaa…daah…..Assalamualaikum”

“ Waalakumsalam….”

***

“ Ayah ibu…..Assalamualaikum.”

“ Waalaikumsalam. Eh…anak ayah sudah pulang. Ayo makan.”

“ Hilma sudah makan ayah. Tadi di rumah Nek Sumi.”

“ Apa itu yang di kantong Hil?” Tanya ibu.

“ Oh ini, tadi cucu nenek dari Bandung datang, bawa cireng, sebagian diberikan ke Hilma. Ini bros, tadi Hilma yang bikin, diajari kak Rani.”

“ Wahhh…cantiknya.”

“ Inilah yang namanya silaturrahim itu menambah rejeki. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW :

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَجَلِهِ، فَلْيَتَّقِ اللَّهَ، وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

yang artinya “Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan ditangguhkan ajalnya, hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dan menyambung silaturahim”.” Kata ayah

“ Kok bisa yah?” Tanya Hilma penasaran.

“ Ya menambah rejeki. Kamu silaturrahim ke nenek Sumi, eh pulang-pulang di bawain cireng. Kamu juga dapat ilmu baru, membuat bros!”“ Eh..iya ya yahhh….alhamdulillah….” . “ Eh…Hilma, ngomong-ngomong, brosnya cantik juga. Buatin ibu ya, “ Pinta ibu. “ Yeee…..ibu buat sendiri, nanti Hilma ajarin.” Jawab Hilma berlagak professional.“ Haahaaa….” Tingkahnya disambut tawa.

Begitulah liburan Hilmi tahun ini, meskipun Hilmi tidak bepergian ke tempat yang jauh, tapi ia mendapatkan ilmu yang berharga dari nenek Sumi, kak Rani dan ayahnya. Semoga dengan cerita pendek ini bisa  memotivasi teman-teman untuk bersilaturrahmi ke sanak saudara, bukan hanya yang jauh tapi yang terdeka tpun yaitu tetangga harus kita jaga dengan baik. Terima kasih.

Astri Febriani,S.Pd - Arabic
Astri Febriani, S.Pd – Arabic