Peran Guru Tak Tergantikan, Benar ‘kah?

Oleh : Azkiya Banata, S.Si.

(Bag. Kepegawaian Yayasan Mentari Indonesia Jaya)

Pandemi COVID-19 telah menunjukkan kepada kita banyak hal baru, salah satunya adalah bahwa proses belajar mengajar tidak lagi harus dilakukan secara tatap muka, bahwa proses belajar bisa tetap berjalan tanpa adanya interaksi langsung yang terjadi di antara guru dan murid. Banyak pendapat yang menyebutkan bahwa teknologi tidak akan pernah bisa menggantikan peran guru sampai kapan pun, benar ‘kah?

Yuval Noah Harari dalam bukunya berjudul Homo deus: Masa Depan Umat Manusia pernah menyebutkan bahwa, reaksi afektif hanyalah serangkaian respon hormonal dalam tubuh manusia yang pada dasarnya adalah reaksi biokimia. Termasuk di dalamnya kebutuhan afeksi murid seperti kebutuhan untuk diperhatikan, didengarkan, mengungkapkan perasaannya, mengekspresikan emosi yang ada pada dirinya baik itu bahagia, cemas, sedih, marah, dan reaksi emosional lainnya.

Gambar: Hormon yang dihasilkan saat seseorang merasakan “bahagia”. Tidak hanya bisa dirasakan, tetapi juga bisa dilihat dan ditulis, ‘kan?

Seperti yang kita ketahui, reaksi biokimia dapat dituliskan, dan selayaknya tulisan—bisa diterjemahkan dalam bahasa pemrograman komputer. Jika seorang guru tidak dapat secara tepat memahami kebutuhan afeksi muridnya, maka sebuah kecerdasan buatan (AI) bisa melakukannya. Dengan serangkaian program yang ditanamkan, AI bisa menerjemahkan respon emosional yang muncul pada diri seorang murid, bahkan yang terpendam sekalipun. Melalui scanning¬ detak jantung, jumlah helaan nafas, sensor suhu dan getaran tubuh, jumlah keringat yang dihasilkan, dan reaksi-reaksi fisiologis tubuh lainnya, AI dapat mendeteksi hormon apa yang dominan sedang diproduksi oleh tubuh seorang murid, apakah itu hormon sedih, bahagia, cemas, dan lain sebagainya dan menunjukkan kadar yang tepat. Maka dari itu, dengan mengenali kebutuhan afeksi melalui deteksi reaksi biokimia hormon, AI dapat menerapkan dengan tepat solusi afektif apa yang sedang dibutuhkan oleh seorang murid.

Sebuah AI juga memiliki banyak keunggulan dibandingkan manusia. Jika kita mengatakan bahwa teknologi tak akan bisa menggantikan interaksi afektif antara guru dan murid karena komputer tidak punya “perasaan”, justru ketika kita para guru—manusia biasa— dapat merasakan kelelahan, sakit, perubahan emosi, atau hal-hal yang berkaitan dengan kesabaran dan perasaan, maka AI tidak. “Musuh” terbesarnya hanyalah ketersediaan listrik, namun selama matahari masih menyinari bumi, maka kita tak akan kehabisan pasokan energi. AI tak akan pernah merasa lelah, marah, tak sabar, dan hal-hal emosional lainnya yang dapat memengaruhi kinerja dan afeksinya kepada murid.

Bayangkan ada sebuah mesin berkapasitas besar yang dapat memuat ribuan ilmu pengetahuan di semesta ini, tanpa memiliki gejolak emosi dan batas kesabaran, tanpa pernah merasa lelah dan sakit secara fisik, dapat mendeteksi kelemahan dan kelebihan manusia secara tepat sehingga mampu memenuhi kebutuhan afeksi seseorang secara spesifik. Mustahil? Sepertinya tidak.

Terlepas dari segala kekurangan pembelajaran jarak jauh pada masa pandemi ini, katakanlah learning loss dan kelemahan belajar online lainnya, ingatlah bahwa ini adalah permulaan dari awal yang baru. Tidak menutup kemungkinan, bertahun-tahun kemudian—atau bisa saja dalam waktu yang lebih singkat—kekurangan itu bisa terselesaikan. Sampai pada usia saya saat ini, rasa-rasanya saya sudah melewati berbagai perkembangan teknologi, dimulai dari ponsel layar kuning hingga ponsel pintar yang melakukan hampir separuh dari pekerjaan saya. Belum lagi perubahan komputer tabung ke laptop berkapasitas besar beserta seperangkat kemampuan sistem informasinya, semuanya dalam waktu kurang dari 30 tahun. Teknologi selalu berkembang pesat, bukan?

Lantas, apa yang harus dilakukan?

Albert Einstein pernah berkata,
“Life is a preparation for the future; and the best preparation for the future is to live as if there were none.”

Apa yang bisa kita lakukan sekarang? Justru sekarang adalah saatnya kita berkontemplasi, sudahkah kita memberikan yang terbaik untuk anak didik kita? Sudahkah kita mencurahkan segala potensi yang kita miliki dalam pengembangan pendidikan? Sudahkah kita berkontribusi penuh dalam pembentukan karakter generasi penerus?

Jika belum, maka lakukanlah, sebelum AI menggantikan kita. Sebelum anak didik kita merasa lebih dipahami kebutuhannya oleh seonggok mesin dibandingkan oleh kita.

Sadari dan hadapi bahwa perubahan itu pasti terjadi, dengan menyadari bahwa suatu hari nanti posisi kita akan tergantikan, maka kita akan selalu ingat untuk senantiasa memberikan yang terbaik pada apa yang sedang kita jalani sekarang.

Masa depan itu pasti, dan yang kita lakukan pada hari ini adalah untuk mempersiapkan masa yang akan datang. Maka dari itu, hiduplah sepenuh-penuhnya, kerahkan apa yang kita bisa lakukan pada masa kini. Selalu ingat bahwa di dunia ini tak ada yang abadi, akan selalu ada pengganti. Fokuslah pada hari ini, curahkan semua potensi yang kita miliki, agar ketika tiba saatnya nanti, kita tak menyesali apa yang telah pergi.