Kue Untuk Wati

Oleh: Meiria, S.Pd.

Guru SDIT Mentari Indonesia

“Mak, Mak, aku mau kue seperti yang diberi Bu Rita kemarin dong,” ujar Wati di suatu sore pada Mak Saroh, ibunya. “Yang mana Wati?”, “Itu yang kotak-kotak ada kejunya.” “Ya nanti ya Wati, kalau ada rejeki lagi.”

Di rumah berdinding kayu itu Mak Saroh hidup bersama anak semata wayangnya, Wati yang berusia lima tahun. Suaminya, Pak Karta pergi ke Malaysia untuk bekerja di kebun sawit. Katanya demi memperbaiki nasib. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Pak Karta tak pernah mengirim kabar maupun hasil jerih payahnya. Mak Saroh pun bingung hendak melapor kepada siapa. Sementara saudara-saudaranya juga sama-sama orang susah dan berpendidikan rendah. Mereka tak paham birokrasi, tekhnologi dan hal-hal yang asing bagi mereka.
Mak Saroh meneruskan memilah sampah hasil memulung hari ini sambil melihat anaknya yang bertingkah lucu. Ya, demi mempertahankan hidup, Mak Saroh berkeliling memungut sampah yang bisa dijual kembali. Hasilnya memang tak seberapa tapi bisa untuk hidup. Mereka hidup seadanya jauh dari kata foya-foya.

Rupanya hari ini Wati ketagihan kue kastengel dari bu Rita seminggu yang lalu. Rasanya memang kurang sedap lagi karena lebaran sudah cukup lama lewat, sekitar empat bulan lalu. Namun bagi Wati, itu sudah istimewa. Kapan lagi ia menikmati keju seperti di iklan
iklan tivi itu. Mak Saroh pun juga tak bisa menolak pemberian kue itu karena takut dibilang menolak rejeki.
“Emak masak dulu ya Wat. Kamu mandi dulu sana, sudah sore.”

Wati pun bergegas ke kamar mandi berpintu seng itu, sementara Mak Saroh sibuk di dapur. Dilihatnya dua buah singkong hasil membantu menyapu halaman Haji Said yang cukup luas. Ia memotong kecil-kecil seukuran jari. Kemudian ia rendam dengan kaldu seribuan dan garam. Tak lama ia pun menggorengnya.

“Wati kamu sudah selesai mandi?”.

“Sudah Mak. Mamak masak apa? Baunya enak.”

“Kemarilah. Coba deh.”

“Bentuknya seperti kue dari bu Rita, Mak.”

Gadis kecil itu mengambil satu demi satu gorengan itu dan memuji Mak Saroh dengan jempolnya. “Enak Mak, enak. Wati nambah lagi ya.”

Wanita itu tersenyum puas. Tentu saja rasanya enak karena fresh tidak seperti makanan yang sudah berbulan bulan disimpan.

Lagipula, bukankah makanan buatan tangan seorang ibu itu rasanya lebih enak? Ya karena pada masakan ibu ada bumbu tambahan yaitu cinta dan keikhlasan.