PROFIL KAMI

LINK PENDIDIKAN

karir

STATISTIK KUNJUNGAN
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini141
mod_vvisit_counterKemarin435
mod_vvisit_counterMinggu ini2340
mod_vvisit_counterBulan ini8372
mod_vvisit_counterTotal261677
GALERI


Bookmark and Share
TAUZIAH
Kekuatan Jiwa

Harta yang paling berharga adalah sabar
Teman yang paling akrab adalah amal
Bahasa yang paling manis adalah senyum
Ibadah yang paling indah adalah ikhlas
Hal yang paling dekat adalah maut
Hal yang paling berat adalah amanah
Hal yang paling besar adalah nafsu
Hal yang paling ringan adalah meninggalkan sholat
Hal yang paling tajam adalah lidah

Artikel Terbaru
Please update your Flash Player to view content.
Potensi Teknologi Komunikasi dan Informasi dalam Mendukung Penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh di Indonesia PDF Print E-mail

Pada artikel ini saya akan melakukan inventarisasi teknologi komunikasi dan informasi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pendidikan jarak jauh di Indonesia serta menguraikan wujud pemanfaatannya. Artikel ini akan dimulai dengan melihat kembali pengertian pendidikan jarak jauh sehingga ulasan pemanfaatan infrastruktur teknologi komunikasi dan informasi dapat dengan lebih jelas diikuti.

Pengertian Pendidikan Jarak Jauh


Telah banyak ahli yang membahas mengenai pengertian dan karakteristik pendidikan jarak jauh diantaranya Keegan (1984), Holmberg (1977), dan Moore (1973). Walaupun agak sulit untuk mendapatkan satu definisi yang diterima oleh semua pakar pendidikan jarak jauh, namun karakteristik pendidikan jarak jauh yang dikemukakan oleh Keegan (1984) dapat dipakai sebagai acuan dasar untuk pembahasan dalam artikel ini. Berikut ini adalah karakteristik pendidikan jarak jauh yang dikemukakan oleh Keegan.

  • Ada keterpisahan yang mendekati permanen antara tenaga pengajar (guru atau dosen) dari peserta ajar (siswa atau mahasiswa) selama program pendidikan
  • Ada keterpisahan yang mendekati permanen antara seorang peserta ajar (siswa atau mahasiswa) dari peserta ajar lain selama program pendidikan
  • Ada suatu institusi yang mengelola program pendidikannya
  • Pemanfaatan sarana komunikasi baik mekanis maupun elektronis untuk menyampaikan bahan ajar
  • Penyediaan sarana komunikasi dua arah sehingga peserta ajar dapat mengambil inisiatif dialog dan mengambil manfaatnya.

Jadi dari uraian karakteristik pendidikan jarak jauh di atas dapat disimpulkan bahwa keterpisahan kegiatan pengajaran dari kegiatan belajar adalah ciri yang khas dari pendidikan jarak jauh. Identifikasi ciri khas pendidikan jauh seperti di atas sejalan dengan apa yang dikemukakan Moore (1973) bahwa pendidikan jarak jauh adalah sekumpulan metoda pengajaran dimana aktivitas pengajaran dilaksanakan secara terpisah dari aktivitas belajar. Pemisah kedua kegiatan tersebut dapat berupa jarak fisik, misalnya karena peserta ajar bertempat tinggal jauh dari lokasi institusi pendidikan. Pemisah dapat pula jarak non-fisik yaitu berupa keadaan yang memaksa seseorang yang tempat tinggalnya dekat dari lokasi institusi pendidikan namun tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran di institusi tersebut. Keadaan seperti ini terjadi misalnya karena pekerjaan yang tidak dapat ditinggalkan.

Jarak sebagai pemisah seperti di ataslah yang hendak diatasi melalui pendidikan jarak jauh dengan memanfaatan rancangan instruksional dan rancangan interaksi supaya kegiatan belajar yang dirancang dengan sugguh-sungguh dapat tercapai. Teori yang berkembang sebagai hasil dari upaya untuk mengatasi jarak dalam kegiatan ini dikenal dengan teori jarak transaksional (Moore, M.G. & Kearsley, G, 1996).

Karena ciri khasnya adalah keterpisahan jarak baik dalam arti fisik dan non-fisik seperti yang dikemukakan di depan maka kegiatan pembelajaran tatap muka dapat dikatakan terjadi dalam frekuensi yang rendah. Isi pembelajaran disampaikan melalui media dalam berbagai jenis sedangkan komunikasi/ interaksi antara peserta ajar dengan tenaga pengajarnya atau dilakukan dengan memanfaatkan sarana komunikasi. Dengan demikian program pendidikan dapat diikuti dari dari mana saja dan kapan saja selama media belajar dan sarana komunikasi dua arah tersedia supaya peserta ajar dan tenaga pengajarnya dapat berinteraksi untuk membahas isi pembelajaran.

Pendidikan yang diselenggarakan dengan system yang secara garis besar digambarkan seperti di atas tentu akan membuka peluang belajar bagi mereka yang tidak bisa mengikuti program pendidikan konvensional. Mereka yang sudah berkeluarga, bekerja biasanya tidak mempunyai waktu yang cukup untuk mengikuti perkuliahan yang diselenggarakan dengan jadwal dan hanya dapat diikuti dari tempat tertentu saja.

Dari uraian tersebut di atas dapat diidentifikasi peran yang dapat dimainkan oleh teknologi komunikasi dan informasi beserta infrastrukturnya dalam pendidikan jarak jauh. Peran tersebut meliputi presentasi materi atau isi pembelajaran dan penyediaan sarana komunikasi atau interaksi antara institusi pendidikan jarak jauh dengan peserta program pendidikannya.

Tiga dari lima media/teknologi yang dapat dipakai dalam penyelenggaraan pendidikan jarak jauh yang telah diidentifikasi Moore dan Kearsley (1996) berkaitan dengan teknologi informasi dan komunikasi. Ketiga media/teknologi tersebut adalah radio dan televisi, telekonferensi, dan pembelajaran berbantuan komputer. Dua media yang tidak terkaitan dengan teknologi komunikasi dan informasi adalah cetak dan audio/video kaset.

Sebelum sampai pada pembahasan mengenai bagaimana masing-masing media/teknologi tersebut dapat dipakai untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan jarak jauh di Indonesia, ada beberapa aspek dari media yang perlu diperhatikan dalam mencermati media/teknologi. Kerangka yang akan dipakai dalam mencermati media tersebut mengacu pada kriteria pemilihan media dan teknologi yang dikemukakan oleh Bates (1995).

Kriteria tersebut diperkenalkan dalam sebuah akronim ACTIONS yang membantu mengingat bahwa aspek Aksesibilitas, Cost (biaya), Teaching-Learning Functions (efektivitas fungsi pembelajaran), Interactivity (interaktivitas), Organization, Novelty, dan Speed.  Berikut ini adalah makna dari empat aspek pertama (yang penulis anggap sangat penting) dari aspek-aspek tersebut.

Aksesibilitas mengacu pada proporsi sasaran program yang mempunyai akses pada media/teknologi yang akan digunakan dalam aktivitas pembelajaran. Aspek akses ini tidak terbatas pada akses secara fisik semata-mata namun aspek mampu atau bahkan kenyamanan dalam memanfaatkan media tersebut. Semakin besar proporsi sasaran yang mempunyai akses pada media, semakin besar peluang sukses dari media yang akan dipergunakan.

Biaya meliputi biaya yang harus dikeluarkan oleh institusi dan oleh peserta ajar. Biaya pada institusi meliputi biaya tetap (investasi awal) yaitu biaya yang harus dikeluarkan pada waktu mengembangkan media dan biaya tambahan bagi setiap penambahan jumlah peserta (operasional).

Efektifitas fungsi pembelajaran mengacu pada kesesuaian media untuk menyampaikan isi pembelajaran. Bila isi pembelajaran memerlukan presentasi materi dalam berbagai format, misalnya teks, suara, gambar, animasi, film hidup, maka pertanyaan yang valid adalah apakah media mendukung untuk hal ini.
Interaktivitas mengacu pada dua hal yaitu pertama apakah media yang akan dipilih mampu melibatkan siswa dalam pembelajaran, yaitu interaksi individual antara peserta ajar dengan materi ajarnya. Interaktivitas yang kedua menyangkut apakah media yang akan dipakai mampu mendukung interaksi antara peserta ajar dengan nara sumber yang akan membantu peserta ajar dalam memahami materi ajar dan interaksi antar peserta ajar.

Sampai di sini telah diulas mengenai pengertian dan karakteristik pendidikan jarak jauh, sisi di mana teknologi informasi dan komunikasi dapat berperan, serta aspek-aspek yang perlu diiperhatikan dalam menerapkan media/teknologi. Dengan demikian cukuplah kerangka yang diperlukan untuk mengulas peran teknologi komunikasi dan informasi dalam penyelenggaraan pendidikan jarak jauh di Indonesia dalam upaya untuk mengatasi kendala ruang dan waktu dalam menyampaikan program pendidikan/pembelajaran.


Kesimpulan

Dari ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa setiap teknologi mempunyai kendala dalam pemanfaatannya guna mendukung penyelenggaraan pembelajaran jarak jauh. Kendala timbul dari aspek aksesibilitas dan biaya sehingga menurunkan fleksibilitas ruang dan waktu yang merupakan “selling point” bagi penyelenggaraan pendidikan jarak jauh. Ada teknologi yang kemampuannya untuk mengatasi kedala ruang dalam penyelenggaraan pendidikan jarak jauh tidak dapat berfungsi maksimal, karena salah satu penyebabnya adalah keterbatasan daya jangkau akibat harus mengikuti peraturan perundang-undangan yang berlaku, misalnya siaran radio. Ada teknologi yang mempunyai kendala biayanya yang sukar diatasi, misalnya telekonferensi video dan siaran televisi. Dari sisi penerima, siaran televisi tidak bermasalah, namun  penyedia program siaran menghadapi kendala biaya produksi program siaran dan biaya penyiaran. Ada pula teknologi yang mempunyai  kendala aksesibilitas dan biaya dapat diatasi (misalnya pembelajaran dengan komputer) karena menjamurnya warnet, warposnet, dan Warintek serta semain kompetitifnya “baca murah” tarif jasa mereka.

Barangkali tepatlah apa yang dikatakan oleh Sir John Daniel yaitu ‘distance education  has evolved as a function of time, place and technology’ (Daniel, 1996, p.47) atau yang berarti pendidikan jarak jauh telah berkembang sebagai fungsi dari waktu, tempat dan teknologi. Wujud dari pendidikan jarak jauh berbeda dari satu tempat ke tempat yang lain, dari waktu dulu ke waktu sekarang, dan berbeda karena alternatif teknologi yang tersedia makin beragam. Dengan demikian pendidikan jarak jauh di Indonesia tidak harus sama dengan pendidikan jarak jauh di Amerika, atau pendidikan jarak jauh di Indonesia sekarang tidak harus sama dengan wajah pendidikan jarak jauh Indonesia 30 tahun yang silam yang sangat terbatas alternatif teknologinya. Pendidikan jarak jauh Indonesia sekarang harus mampu memanfaatkan alternatif teknologi yang tersedia tanpa meninggalkan perhatian atas empat aspek penting dari teknologi yang telah diidentifikasi di atas, yaitu aksesibilitas, biaya, efektifitas dalam fungsi pembelajaran, serta kemampuan teknologi untuk mendukung interaktivitas antara peserta ajar dan tenaga pengajar yang dipandang sangat penting dalam pendidikan.

Penulis: Ainur Ridho
(Guru Bidang Studi : Teknologi Informasi & Komunikasi)

Referensi:
Arbi, Z. (2001).  Untuk TI, Belajarlah sampai ke Cina . Kompas, Selasa, 27 November 2001 [online] URL: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0111/27/ti/untu33.htm.

Bates, A.W. (1995). Technology, Open Learning and Distance Education. Routledge, London.

Daniel, J.S. (1996). Mega-Universities and Knowledge Media: Technology Strategies for Higher Education. Kogan Page, London

Farid, F. (2001). Universitas Terbuka Genjot Akses e-Learning lewat Warnet. [online] URL:  http://www.detik.com/.

Holmberg, B. (1977). Distance Education: A survey and bibliography. Kogan Page, London.

Huda, N, Padmo, D & Kurniati, S. (2000). Pesepsi dan Kesediaan Pengelola UPBJJ dan Radio Lokal terhadap Penyelenggaraan Siaran Program Tutorial Radio Universitas Terbuka. Lembaga Penelitian, UT, Jakarta.