PROFIL KAMI

LINK PENDIDIKAN

karir

STATISTIK KUNJUNGAN
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini86
mod_vvisit_counterKemarin435
mod_vvisit_counterMinggu ini2285
mod_vvisit_counterBulan ini8317
mod_vvisit_counterTotal261622
GALERI


Bookmark and Share
TAUZIAH
Meraih Ilmu dengan 6 Perkara

Saudaraku …

Engkau tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan 6 perkara,

aku akan menyebutkan perinciannya dengan jelas:

cerdas, ambisi (ketekunan), usaha, dana, berguru dan waktu yang lama.

(Imam Syafi’i)

Artikel Terbaru
Please update your Flash Player to view content.
Makna Tahun Hijriyyah Bagi Umat Islam PDF Print E-mail
Saturday, 09 January 2010 03:18

 

Sejarah Tahun Hirjriyyah

Munculnya tahun Hijriyyah dalam sejarah umat Islam bermula dari surat Abu Musa Al Asy’ary, wali negeri Basra (Irak) kepada Khalifah Umar bin Al Khaththab yang berbunyi: “Kami telah menerima banyak surat dari Amir al-Mu’minin, dan kami tidak tahu mana yang harus dilakukan. Kami telah membaca satu perbuatan yang bertanggal Sya’ban, tetapi kami tidak tahu Sya’ban mana yang dimaksudkan: Sya’ban sekarang atau Sya’ban yang tahun depan?”
   
Khalifah Umar memandang perlu segera menetapkan penanggalan baku kaum muslimin, baik untuk pemerintahan maupun masyarakat. Khalifah bermusyawarah dengan para shahabat, ulama dan zu’ama’. Ada empat usulan penentuan awal penanggalan muslim: 1) Dihitung dari hari lahir Rasulullah SAW; 2) Dihitung dari hari wafat Rasulullah SAW; 3) Dihitung dari hari pertama Rasulullah SAW menerima wahyu Allah di gua Hira’; dan 4) Dihitung dari hari, tanggal dan bulan Rasulullah SAW melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah. Usul keempat dari Ali bin Abi Thalib.

Lalu disepakati penanggalan Islam dimulai dari hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah pada tanggal 12 Rabi’ al-Awwal.

Nama Bulan dan Hari

Sistem penanggalan Hijriyyah menggunakan nama bulan yang telah digunakan oleh orang-orang Arab, sebanyak 12 bulan.  Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram….(QS. AT Taubah 36).
Empat bulan Haram yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah bulan Zulqaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab.
 
Adapun nama dari dua belas bulan itu secara berurutan ialah: Muharram (bulan suci), Shafar (bulan yang hampa), Rabi’ al-Awwal (musim semi pertama), Rabi’ al-Akhir/Tsani (musim semi kedua), Jumad al-Ula (musim dingin pertama), Jumad al-Tsaniyah (musim dingin kedua), Rajab (bulan yang dipuja), Sya’ban (bulan pembagian), Ramadhan (bulan musim panas), Syawwal (bulan perburuan), Dzul-Qa’dah (bulan istirahat) dan Dzul-Hijjah (bulan haji).
   
Sedangkan nama-nama hari dalam 7 hari dalam penanggalan hijrah menggunakan nomor bilangan Arab. Hari pertama disebut Ahad, kedua Itsnain, ketiga Tsulatsa, keempat Arbi’ah/arba’ah, kelima Khamis, keenam Jum’at. Nama hari Jum’at ini adalah nama khusus dari Allah dalam al-Qur’an surat Jum’at: 9 (yaumil jumu’ati), sebagai kewajiban muslim ibadah mendengar khutbah dan shalat berjama’ah di masjid. Hari ketujuh al-Sabt.

Urgensi Penanggalan Hijriyyah bagi Umat Islam

Penanggalan Hijriyyah bagi umat Islam memiliki urgensi tersendiri.  Sebab, umat Islam memiliki misi beribadah dalam hidup di dunia ini (QS. Adz Dzariyat 56).  Oleh karena itu, umat Islam perlu mengetahui hari dan tanggal berapa serta bulan apa mereka diwajibkan atau disunnahkan untuk melaksanakan ibadah-ibadah tertentu.

Umat Islam diwajibkan melaksanakan shaum di bulan Ramadhan (QS. AL Baqarah 183,185), maka umat harus tahu kapan bulan Ramadhan masuk dimana pada tanggal 1 Ramadhan umat wajib melaksanakan shaum dari terbit fajar sampai tengelamnya matahari 1 Ramadhan.  Demikian juga tanggal 2, 3, hingga 29 Ramadhan.  Pada 29 Ramadhan menjelang Maghrib, umat harus melihat bulan apakah muncul bulan baru, hilal 1 Syawwal, sehingga besoknya diharamkan berpuasa Ramadhan dan disunnahkan Solat Idul Fithri; ataukah umat harus menggenapkan shaum pada tanggal 30 Ramadhan karena hilal tidak kelihatan karena tertutup awan. 

Setiap bulan dalam bulan Hijriyyah, umat Islam disunnahkan melaksanakan shaum pada hari-hari putih (ayyamul bidl) yakni tanggal 13,14,dan 15 Muharram, Shafar, Rabiul Awwal, dan seterusnya. Pada bulan Muharram sendiri Umat Islam disunnahkan shaum selama pada tanggal 9 dan 10 Muharram (Shaum Tasu’a dan Asyura).  Dan pada bulan Syawwal disunnahkan shaum 6 hari, pada tanggal 1-9 Dzul Hijjah, khususnya 9 Dzul Hijjah (Yaum Arafah) umat Islam juga disunnahkan shaum. Pada bulan Rajab dan Sya’ban umat Islam   memperbanyak shaum sunnah. Pada 10 hari pertama bulan Zul Hijjah amalan umat Islam dilipatgandakan.

Selain itu ada hari-hari besar yang selalu diperingati umat Islam.   Misalnya 1 Syawwal sebagai Hari Raya Idul Fitri dan 10 Dzul Hijjah sebagai Hari Raya Idul Adha (Hari Raya Haji).  Juga ada tanggal 17 Ramadhan yang dikenal sebagai tanggal turunnya Al Quran (Nuzulul Quran), 12 Rabiul Awwal sebagai tanggal kelahiran Rasulullah saw. (Maulid Nabi saw.) dan juga tanggal Hijrahnya Rasulullah saw. dari Mekkah ke kota Madinah, serta tanggal 27 Rajab sebagai tanggal Rasulullah saw. mengalami peristiwa Isra’ Mi’raj.

 
Hijrah ke Penanggalan Hijriyah

    Makna ditetapkannya penanggalan Hijriyyah bagi umat Islam adalah agar umat ini senantiasa menghidup-hidupkan semangat Hijrah yang telah ditempuh oleh Rasulullah saw. dan kaum muslimin.  Allah SWT berfirman:
"Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan". (QS. At Taubah 20).

    Oleh karena itu, sudah saatnya umat Islam hari ini  menggunakan penanggalan hijriyah.

Baarakallahu lii walakum.

dikutip dari Bulletin Ad-Dakwah

 
 
LATEST NEWS
Tulisan Siswa
BLOG SISWA
PILIH BAHASA
DOWNLOAD
WAKTU SHOLAT
KALENDER HIJRIYAH